Senin, 02 Oktober 2017

The Classification Of Rock Climbing According To The Length Of Climbing And Altitude

The classification of rock climbing according to the length of climbing and altitude- atau dalam bahasa Indonesianya klasifikasi panjat tebing menurut lama pemanjatan dan ketinggiannya. Terimakasih sudah mengunjungi blog Info Panjat Tebing, dimana blog yang membagikan informasi seputar panjat tebing, naik gunung dan artikel olahraga alam yang bermanfaat lainya, well untuk sekarang penulis akan membagikan informasi tentang klasifikasi panjat tebing, mungkin sudah banyak yang tau atau bisa dikatakan master climbing dan otomatis tau mengenai klasifikasi panjat tebing akan tetapi sebagian generasi ada yang belum tau seperti pemanjat muda-muda yang masih baru pertama kali melakukan panjat dinding, untuk itu penulis akan menuliskan mengenai klasifikasi panjat tebing secara umum menurut lama dan ketinggian dari panjat tebing itu sendiri. 

The classification of rock climbing according to the length of climbing and altitude
Sumber: photo wahab, lomba metala 2017

Apasih klasifikasi panjat tebing menurut pandanganmu?

Menurut pandangan saya klasifikasi panjat tebing adalah pembagian jenis pemanjatan  menurut kelas–kelasnya, proses pengelompokan jenis-jenis panjat tebing, teknik beserta persamaan dan perbedaanya.

Olahraga di dalam kehidupan kita sangatlah amat penting karena melalui olahraga manusia dapat hidup dengan sehat jasmani maupun rohani serta mempunyai sifat akan disiplin dan bertanggung  jawab dalam segala hal. Olahraga panjat tebing merupakan salah satu dari banyak cabang olahraga yang ada di Indonesia, olahraga panjat tebing merupakan olahraga yang membentuk masyarakat Indonesia yang sehat jasmani dan rohani. Dan panjat tebing merupakan salah satu olahraga di Indonesia yang  ikut mengharumkan nama Bangsa Indonesia di mata Dunia melalui sumbangan-sumbangan mendali dari kejuaraan Asia maupun kejuaraan Internasional. Seperti pada tahun 2017 Tim panjat tebing Indonesia telah menorehkan prestasi dalam Kejuaraan Panjat Tebing Asian Continental Championship 2017 di Mega Pars Complex Tehran - Iran,  Indonesia mendapat mendali di kejuaraan paling bergengsi di benua Asia ini dengan total tiga medali emas, satu perak dan tiga perunggu.

Klasifikasi panjat tebing menurut lama pemanjatan dan ketinggiannya, secara umum klasifikasi panjat tebing terbagi dalam beberapa jenis, namun dalam pembedaan ini satu sama lainnya tidak terpisahkan secara jelas.

  1. Free Climbing. Untuk free climbing sendiri alat untuk pengaman yang paling baik dalam melakukan pemanjatan adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat di tingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang keras dan mengikuti prosedur yang tepat dalam melakukan pemanjatan dari pemasangan piton, cok stoper dan sling (yang di masukkan dalam lobang tembus) dan mempertimbangkan jenis batuan apa dan alat-alat apa yang cocok, jenis jenis alat yang cocok dan tepat untuk dipasang pada jenis batuanya. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila si pemanjat jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang pengaman pada tebing, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam tipe pendakian seperti ini seorang pendaki diamankan oleh belayer yang mengontrol tali dari bawah (Heidi, 2011).
  2. Free Soloing. Free soloing merupakan bagian dari jenis pemanjatan free climbing karena si pemanjat menggunakan pengaman yang terdapat pada diri sendiri seperti tangan dan kaki, akan tetapi si pemanjat harus benar-benar siap untuk melakukan pemanjatanya dengan segala resiko yang dihadapinya sendiri karena free soloing sangat berbahaya untuk dilakukan dan dalam pergerakannya pemanjat tidak menggunakan peralatan pengaman seperti tali karmantel dan bentuk pengaman yang lainya. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pemanjat harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan dari jenis batuan, pegangan, pijakan dan tehnik apa yang mau di gunakan dalam pemanjatan dan harus tepat dalam mengambil sebuah keputusan untuk melakukan pergerakan pada jalur yang akan dilalui. Bahkan kadang-kadang pemanjat harus menghafalkan dahulu jalur yang akan dilalui seperti gerakan pada setiap bentuk batuan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, kebanyakan orang akan melakukan free soloing climbing bila pemanjat sudah pernah dan hafal pada jalur yang mau di panjat. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali seperti patah tulang dan hingga kematian, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional dan sedikit gila yang akan melakukannya. Teknik pemanjatan ini sangat tidak disarankan mengingat risikonya yang dihadapi oleh pemanjat sangat-sangat lah fatal. (John, 2006)
  3. Artifisial Climbing, artifisial climbing adalah dimana pemanjat melakukan pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan untuk menyelesaikan jalurnya, seperti piton, bolt, prusik, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pemanjatan sering sekali pemanjat dihadapi kasus jalur medan yang kurang atau tidak sama sekali ada tumpuan atau peluang gerak yang memadai. Tujuan dari artifisial climbing adalah untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan, biasanya artifisial climbing ini dilakukan berkelompok dengan tugas yang jelas antara leader dan belayer. (Mountaineering, 6th ed)
  4. Bouldering. Bouldering adalah jenis pemanjatan yang dilakukan pada tebing yang tidak terlalu tinggi sekitaran 4 sampai 5 meter dan dibawahnya terdapat matras (kasur busa tebal), bisanya pemanjat melakukan gerakan secara vertica, kiri kanan dan naik turun. Gerakan ini dilakukan berulang kali. Untuk bouldering ini perlengkapan yang digunakan ditekan sedikit mungkin. jadi pemanjat hanya memerlukan pakaian, sepatu dan chalk beg (tempat magnesium). Adapun tujuan bouldering untuk pemanjat lead dan speed ialah: Sebagai pemanasan bagi pemanjat sebelum melakukan pemanjatan di dinding tinggi, sangat bagus untuk melatih gerakan yang sulit (gerakan melipat), untuk melatih endurance, ntuk melatih belens dan blok. Akan tetapi saat ini di dunia kompetisi panjat tebing bouldering merupakan jenis panjat tebing yang sangat bergengsi (John P. Gill, 1969).
  5. Crag climbing merupakan jenis panjatan bebas dan di dalam pelaksanaanya yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: Single pitch climbing dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah untuk mengamankan orang kedua. Multi pitch climbing pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan di perlukan pergantian leder dalam melakukan penyelesaian jalur, tiap pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua (second man). (Luebben, 2004)
  6. Big Wall Climbing, merupakan jenis pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari Crag Climbing dan membutuhkan waktu berhari-hari, memerlukan peralatan yang cukup dan memerlukan pengaturan tentang  jadwal pemanjatan, makanan, perlengkapan tidur dll. Dalam pemanjatan bigwall sangat di anjurkan memakai hetlem dan memnejemen peralatan maupun makanan yang dibawa, pemanjatan big wall ada dua sistem yang dipakai yaitu : Alpine System / Alpine Push / Siege Tactic. Dalam alpine push, pemanjat selalu ada di atas tebing dan tidur di atas tebing sampai pemanjatan jalur selesai, jadi segala peralatan dan perlengkapan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun sebelum pemanjatan jalur berakhir. Pemanjatan ini baru dianggap berhasil apabila semua pendaki telah mencapai puncak. Dan yang kedua: Himalayan System / Himalayan Tactic. Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Pemanjatan big wall yang dilakukan sampai sore hari, setelah itu pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel di tebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Pemanjatan tipe ini biasanya terdiri atas beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahat. Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim. Dan adapun perbedaan antara alpine push dan himalayan tactic adalah: Alpin push, waktu pemanjatan sangat lama hingga tidur di jalur tebing, alat yang digunakan lebih sedikit, waktu untuk istirahat sedikit dan perlu load carry. Sedangkan himalayan tactic, waktu dalam melakukan pemanjatan jalur lebih lama, alat yang dibutuhkan lebih banyak, waktu istirahat lebih banyak, tidak memerlukan load carry karena pemanjat turun kebawah pada waktu sore hari. (John Middendorf,1988)

Baca juga Tingkat Kesulitan ( Grade ) Dalam Panjat Tebing Yang Digunakan Di Indonesia

Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :
  1. Gym Climbing. Gym climbing pada tipe ini, belayer berada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay atau carabiner) diatas pemanjat. Jika pemanjat jatuh maka berat pemanjat tadi akan dibelokan oleh sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer dan berat tumpuanya pada pullay.
  2. Top Roping. Top roping pada tipe pemanjatan ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju pemanjat ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).
  3. Lead Climbing, pada tipe pemanjatan ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke pemanjat. Pada saat pemanjat mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 2 sampai 3 meter) pemanjat terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan pemanjat akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang. 
Lead climbing terbagi menjadi dua yaitu:  
  1. SportClimbing adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olah raganya, pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan dan kebugaran badan. Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger pada dinding tebing)
  2. Traditional/Trad/Adventure Climbing Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan di alam. Pada Trad Climbing , dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang pemanjat. Pemanjat harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun belay untuk membelay pemanjat kedua. Pemanjat yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

Terimakasih sudah mengunjungi blog Info Panjat Tebing. bila ada kesalahan atau tutur kata yang kurang baik penulis memohon maaf sebesar besarnya karna penulis juga manusia biasa, bila mana terdapat kesalah dan kekurangan mohon sekiranya menambahkan dalam kolom komentar dibawah. Semoga bermanfaat untuk kita semua Amin.


Refrensi
  1. Perrin, John (2006). The Climbing Essays . Neil Wilson Publishing Ltd. hal. 320. ISBN  978190323847.
  2. John,. P. Gill art bouldering. http://publications.americanalpineclub.org/articles/12196935500/The-Art-of-Boulderingublications.americanalpineclub.org di akses 1969.
  3. JohnMiddendorf,A5 Adventures the big-wall supply shop. http://www.bigwalls.net/climb/BigWallTechManual.htm di akses 1988.
  4. Pesterfield, Heidi (2011). Traditional Lead Climbing: A Rock Climber's Guide to Taking the Sharp End of the Rope (2nd ed). Wilderness Press. p. 11. ISBN 9780899975597.
  5. Luebben, Craig (2004). Rock Climbing: Mastering Basic Skills. Washington: The Mountaineers Books. pp. 286–287. ISBN 978-0-89886-743-5. 
  6. Mountaineering: The Freedom of the Hills (6th ed.). Seattle: The Mountaineers. ISBN 0-89886-426-7.

0 komentar