Sabtu, 09 September 2017

Tingkat Kesulitan ( Grade ) Dalam Panjat Tebing Yang Digunakan Di Indonesia

Tingkat Kesulitan ( Grade )  Dalam Panjat Tebing Yang Digunakan Di Indonesia - Dalam  kehidupan sehari hari  hampir  setiap  hari  manusia  menemui  kesulitan-kesulitan yang berbeda-beda baik kesulitan indipidu maupun kesulitan dalam hal sosial. Kesulitan itu sudah menjadi bagian dari diri individu dan tidak dapat dihindari terus-menerus. Misalnya seorang pelajar, mungkin akan menemukan kesulitan dalam mata pelajarannya, seorang karyawan menemukan kesulitan dalam pekerjaannya. Kesulitan tersebut akan menghasilkan suatu perubahan, baik perubahan positif maupun perubahan negatif. Manusia jika dihadapkan pada kesulitan maupun keadaan dimana mereka harus menentukan atau memutuskan, mereka harus memiliki kemampuan-kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi kesulitannya.

Tingkat Kesulitan ( Grade ) Dalam Panjat Tebing Yang Digunakan Di Indonesia
Tebing Parangdog. Janagiri UJB YK

Sama juga dalam dunia olahraga manusia akan dihadapkan dalam kesulitan-kesulitan yang berpariasi atau dalam istilah asingnya grade rock climbing dimana terdapat tingkatan tingkatan dalam dunia panjat tebing yang ditinjau dari segi tingkat kesulitan jalur. Yang memerlukan teknik-teknik khusus untuk menaklukkan jalur kesulitan atau grade dalam panjat tebing, tentu saja tebing merupakan media prasarana dalam kegiatan panjat tebing. Pengetahuan dasar tentang media tebing yang harus diketahui oleh para pemanjat antara lain: Bentuk tebing, bagian tebing yang dilihat secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak.

  1. Blank adalah bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa disebut vertikal.
  2. Overhang adalah bentuk tebing yang mempunyai sudut kemiringan antara 10-80 derajat.
  3. Roof adalah bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung.
  4. Teras adalah bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam tebing.
  5. Top adalah bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan.
Lalu ada jalur permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang nantinya akan digunakan untuk pegangan dan pijakan dalam suatu pemanjatan. yang tebagi menjadi tiga bagian
  1. Face adalah permukaan tebing yang mempunyai tonjolan.
  2. Slap / Friction adalah permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan mulus tidak ada cacat batuan.
  3. Fissure adalah permukaan tebing yang tidak mempunyai celah/crack.
 
Tingkat Kesulitan ( Grade ) Dalam Panjat Tebing Yang Digunakan Di Indonesia
Tebing Parangdog. Janagiri UJB YK
Setiap jenis tebing memiliki tingkat kesulitan yang ber variasi dan memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut. Tingkat kesulitan yang biasa di pakai di Indonesia biasanya digunakan sistem desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada setandar kesulitan dalam melakukan pemanjatan, biasanya tingkat kesulitan dimulai dari angka lima mengacu pada setandar tingkat kesulitan dalam melakukan pemanjatan yang di buat oleh amerika).

  1. Garde 5,7-5,8 adalah tingkat kesulitan dalam melakukan pemanjatan yang amat mudah. lintasan atau jalur pemanjatan untuk pegangan dan untuk pijakan sangat banyak dan besar besar, dan sudut kemiringan masih mudah untuk proses pemanjatan belum sampai 90 derajat sudut kemiringanya.
  2. Garde 5,9  adalah tingkat kesulitan dalam melakukan pemanjatan lebih sulit dibanding 5,7 dan 5,8 karena jarak antara pegangan dan pijakan pada media tebing agak berjauhan akan tetapi masih banyak dan besar.
  3. Garde 5,10.  adalah tingkat pemanjatan mulai lumayan sulit dan bisa dikatakan sangat sulit untuk pemula hehehe tapi gak sesulit yang di bayangin ya, karena pegangan dan pijakan sudah bervariasi jaraknya jauh-jauh dan poin pijakan serta pegangan ada yang kecil dan besar. Terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki, faktor keseimbangan mulai digunakan dalam melakukan pemanjatan di gret ini.
  4. Garde 5,11 adalah tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi dibanding yang diatas hehehe ya pasti to udah beda angka hehe karena antara pegangan dan yang satu dan pegangan yang lain berjauhan dan kecil kecil yang hanya bisa di pegang oleh beberapa jari aja wah perlu senam jari kayaknya hehe, kedua tungkai melakukan gerakan melebar agar kaki dapat bertumpu pada tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh dalam melakukan pemanjatan di grade ini sangat berpengaruh sekai karena bentuk tebing yang dilalui pada jalur ini terdapat variasi antara tebing gantung dan tebing atap kayak rumah aja ya punya atap hehehe.
  5. Garde 5,13-5,14. Jalur pemanjatan ini sangat ber variasi antara tebing gantung dan atap dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan tangan. Pemanjat mulai melakukan gerakan gesek dan bertumpu pada ujung jari (edginh) bahkan harus mengaikan tumit pada pijakan (hooking).

Selain kriteria kesulitan di atas banyak negara lain juga membuat tinggkat kesulitan atau gred tersendiri sesuai dengan pemikiran dan penilaian masing masing seperti Prancis, UIAA (Union International Des Association Alpines). Ada beberapa macam sistem yang digunakan di dunia dalam menentukan tingkat kesulitan panjat tebing. Beberapa yang populer adalah sebagai berikut:


  1. Sistem UK, sistem ini menggunakan 2 sub grade, adjectice grade (sifat) dan technical grade (teknis). Adjective grade menggambarkan kesulitan secara menyeluruh dari perkiraan seberapa susah jalur pemanjatan, jumlah kesulitan yang dialami dan ketersediaan pengaman. Adjective grade terdiri dari: Moderate (M), Very Difficult (VD), Hard Very Difficult, Mild Severe,Severe (S),Hard Severe (HS), Mild Very Severe (MVS), Very Severe (VS), Hard Very Severe (HVS) dan Extremely Severe. Extremely Severe dibagi lagi menjadi 10 sub grade yaitu dari E1 sampai E10. Sedangkan sistem numerik pada technical grade menggambarkan tingkat kesulitan tersulit (crux) selama dalam pemenjatan. Jika pemanjatan dilakukan multi pitch maka masing-masing pitch akan mendapatkan technical grade untuk masing-masing pitch. Tecnical grade terdiri dari: 4a, 4b, 4c, 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, 6c, 7a, 7b, 7c …..dan selanjutnya…
  2. Sistem Perancis, sistem ini dikenal sebagai sistem untuk tingkat kesulitan dalam sport climbing makanya banyak digunakan di jalur papan panjat. Tidak seperti sistem UK, sistem ini menggunakan penomeran tunggal untuk menggambarkan seberapa sulit suatu jalur secara menyeluruh. Hal ini bisa menyebabkan masalah, misalkan suatu jalur mudah dilewati oleh pemanjat pemula, maka bisa menjadi jalur yang sulit pada pengkategoriannya. Grade sistem prancis terdiri dari 4, 5a, 5b, 5c, 6a, 6a+, 6b, 6b+, 6c, 6c+, 7a, 7a+, 7b, 7b+, 7c, 7c+, 8a, 8a+, 8b, 8b+ ,9a, 9a+.
  3. Sistem UIAA, sistem Union Internationale des Associations d’Alpinisme (UIAA) ini banyak digunakan di Jerman dan Austria. Sama seperti sistem Perancis, menggunakan penomeran tunggal untuk menggambarkan seberapa sulit suatu jalur secara menyeluruh, sistem ini diawali dari 1 (mudah) sampai 10 (sulit). Karena tingkat kesulitan bertambah, maka dilakukan penambahan + atau – biasa dilakukan untuk membedakan antar grade pemanjatan. jalur 11+ dan 12- sekarang banyak dipanjat oleh para pemanjat. Grade sistem UIAA terdiri dari VI+, VI+/VII-, VII, VII+, VII+/VIII-, VIII, VIII/VIII+, VIII+, IX-, IX, IX/IX+, X-, X, X+, I-, XI, XI+, XII-.
  4. Sistem Australia, sistem ini digunakan di Australia dan New Zealand dengan menggunakan sistem logika. Sistem ini menggunakan sistem penomeran tunggal, semakin sulit suatu jalur maka angka akan semakin tinggi. Tidak seperti Sistem Perancis dan Sistem Amerika yang tidak mempertimbangkan ketersediaan pengaman, Sistem Australia akan meningkat tingkat kesulitannya jika jumlah pengaman sedikit. Grade sistem Australia ber urutan dari 12 sampai 33.
  
Terimakasih sudah mengunjungi blog info panjat tebing dilamana ada master panjat yang kesasar disini, data di atas di dapat dari situs resmi masing masing negara yang di sebutkan, jikalauada kesalahan atau kekurangan mohon di tambahkan dalam komentar di bawah di ucapkan banyak terimakasih